Story: Aku dan Impian di Tengah Era Digital


Pengantar Artikel


Teknologi merupakan suatu hal yang aplikatif, yang artinya, sesuatu yang bisa mempengaruhi perubahan aktifitas ekonomi, sosial, dan budaya. Sejarah teknologi muncul pada abad ke-20. Lebih dari 200 tahun terakhir, kata Technology saat itu tidak lah lazim didengar oleh telinga masyarakat. Teknologi ditemukan di Amerika, dan dilanjutkan dengan revolusi digital.

Berbicara tentang sejarah, ada banyak sejarah yang telah tertera dalam sebuah gudang. Tempat di mana menyimpan berbagai barang, termasuk sejarah. Perlu kita ketahui, saat ini adalah era digital. Sebuah sejarah yang wajib kita ketahui sebagai pengguna digital saat ini. Sebelum masuk ke era digital, sejarah teknologi pun tidak luput dari para ilmuwan yang berhasil menemukan sebuah inovasi baru, yang sampai saat ini kita masih dapat merasakannya.

Revolusi era digital ditemukan pertama kali pada tahun 1980-an, dan selanjutnya adalah perubahan dari teknologi mekanik dan elektronik analog ke teknologi digital yang berlanjut sampai detik ini. Pernah kah kalian membayangkan, jika sampai saat ini, kita masih menggunakan fasilitas di era sebelum kemunculan teknologi?

Mungkin, saat ini kita masih akan kesulitan untuk melakukan pekerjaan agar lebih mudah. Mungkin, sampai saat ini, kita masih lambat untuk mengirimkan surat. Mungkin, sampai saat ini, kita masih menggunakan kaleng bekas yang dihubungkan menggunakan tali ke kaleng yang terhubung satu sama lain, hanya untuk bertelepon atau memberikan informasi. Dan masih banyak lainnya contoh hingga saat ini, jika teknologi era digital masih belum ditemukan.

Dari generasi ke generasi lah yang membuat perubahan dan perkembangan pada era teknologi digital. Sedari awal penemuan digital, banyak sekali perubahan yang dialami oleh banyak negara, termasuk Indonesia.

Kini, era digital merambak luas ke berbagai penjuru dunia. Bagaimana tidak? Akses di dunia digital saat ini, semua sudah bisa digunakan oleh siapapun dan di mana pun berada. Sangat fleksibel, dan sangat mudah untuk digunakan.

Dan aku adalah bagian kecil yang menikmati dunia teknologi digital. Dan aku merupakan orang yang memiliki impian di tengah era digital saat ini, lho. Sebuah impian di mana aku bisa mewujudkan cita-cita dan bisa memanfaatkan teknologi digital yang sedang sangat maju dan berkembang pesat. beberapa impianku adalah bisa pergi ke luar negeri, memiliki smartphone canggih, dan menjadi photographer professional yang memiliki kamera dengan teknologi terbaru.

Aku dan Impian di Tengah Era Digital

- PART 1 -

Suatu hari di Kota Hujan. Terdapat kantor berlantai 10, ditengah kota tersebut. Terdengar suara obrolan di ruang operator.

"Tolong buatkan website untuk perusahaan ini, ya. Deadline 30 hari dari sekarang," Ujar GM (General Manager) dengan tatapan lurus menatap pria berbadan mungil, menggunakan baju putih, dan bercelana hitam.

"Baik, pak." Lanjut olid. Salah satu pegawai perusahaan tersebut, berbadan mungil, berkulit sawo matang, berambut rapih, dan berkumis tipis, yang biasa disebut "Si Kecil Cabe Rawit". Seketika atasannya pergi, ia pun membalikkan badan ke belakangnya, dan terfokus pada layar monitornya kembali.

Banyak orang mengenal olid adalah orang yang sangat pintar, dan bisa diandalkan. Olid pandai dalam hal fisika, kimia, matematika, dan sejarah. Sering terdengar nama "olid" di berbagai tempat. Seperti: sekolah, perkuliahan, dan di kantor tempat ia bekerja.

Suatu ketika terdapat masalah yang menimpa dirinya, 14 hari lagi sebelum deadline selesai, olid masih belum bisa membuat rangkaian website sederhana. Ia merasa tidak mampu melakukan apa yang diperintahkan oleh GM. Yaitu membuat website perusahaan. Dikarenakan dirinya bukan dari jurusan yang bersangkut paut dengan teknologi.

Ia bersekolah di SMA BINA SEJAHTERA Bogor, dan masuk ke dalam jurusan IPA. Lulusan pada pertengahan tahun 2017. Dirinya pun merasa tidak berguna di tengah era digital. Lantaran, seketika dulu, olid tidak pernah memperhatikan guru yang mengajar di bidang teknologi. Dikarenakan, dirinya tidak suka akan pelajaran tersebut.

Dan saat itulah, awal mula ia menyesal, karena tidak ingin belajar teknologi. Dan hari di mana mendekati deadline yang ditentukan, dirinya pun banting setir. Olid mendadak masuk ke dunia teknologi digital. Dengan bermodalkan komputer dan internet yang disediakan di perusahaan tersebut, dirinya pun mulai mempelajari lebih dalam tentang membuat website.

- PART 2 -
 15 Hari Sebelum Deadline

Keesokan harinya ...

Ctak! Klik! Ctak! Klik!

Terdengar suara keyboard dan mouse yang ditekan oleh jari-jari, di atas meja komputer, tepatnya di meja kerja si Olid.

Terlihat wanita dengan rambut setengah panjang, menggunakan baju blazer biru tua, menghampiri meja kerja Olid.

"Lagi ngapain, lu? Tanya Sinta. Teman satu yayasan sekolah dulu bersama Olid. Dirinya masuk ke jurusan SMK, tepatnya jurusan multimedia. Dirinya tentu mempunyai skill dibidang multimedia, seperti website.

"Gini ... Ta. Gue bingung, disuruh oleh GM, bikin website perusahaan ini. Sedangkan gue nggak ada skill untuk membuat sebuah website." Ucap Olid dengan tatapan yang masih terfokus ke layar monitornya.

"Oh, website ... Sini gue bantu." Seraya menepuk pundak pria mungil tersebut, tanda agar Olid ke luar tempat duduk, dan Sinta menggantikan posisi tempat duduknya. Lalu, wanita tersebut mulai mengarahkan mouse dan menekan tombol keyboard, sesuai arahannya.

Sinta pun memberikan sedikit ilmu yang ia miliki kepada Olid.

"Jadi, gue bakal ngajarin lu bikin website, walau nggak jago-jago amat bikin website. Dan ini adalah cara membuat website perusahaan hanya dengan sekali klik!"

"Wah? Masa, sih!?" Dengan nada terheran-heran, lantaran, Olid hanya mengetahui membuat website itu rumit. Harus belajar dari nol agar bisa membangun sebuah website yang baik dan menarik.

"Ah, lu. Makanya ... Jadi orang jangan kudet. Udah tahu sekarang zaman teknologi. Lu kan pegang hape, harusnya lu udah paham tentang teknologi." Lanjut Sinta.

"Hehehe ... Maap, maap. Gue cuma tau pakainya aja."

 "Huh, dasar."

"Jadi gini, lu masuk ke halaman Domainesia"

"Hah? Domainesia?" Tanya Olid dua kali dengan nada heran.

"Yoi. Domainesia, bro. Situs web hosting dan domain terpercaya, sekaligus termurah. Di sana, kita bisa membuat ataupun membangun website yang kita inginkan. Dan lebih serunya lagi, Domainesia telah menyediakan fitur barunya, yaitu Web Apps. Dengan fitur ini, lu bisa bikin deh tuh, website perusahaan, sekolah, developer, forum, dan banyak lagi deh."

"Terus?" Tanya ketiga kalinya.

"Nanya mulu, lu! Yaudah, gini, lu tinggal sediakan dana, tinggal minta ke GM. Eh jangan deh, mending pake duit gajian lu aja."

"Hah? Nggak mau gue. Rugi gue yang ada." Menggerakan sebelah alisnya ke atas, dan memasukan telapak tangannya ke dalam saku celananya. Tanda tidak ingin mengeluarkan uang.

"Hadeuh, tenang aja. Domainesia ini paling irit, lho. Lu bisa bikin website dengan hosting dan domainnya juga, dan langsung disetting oleh pihak Domainesia. Kita hanya memberikan nama website dan domain website yang akan kita bangun. Dan kalo lu beli hosting website di Domainesia, lu bisa dapetin gratis domain apapun selama setahun. Dan memiliki kebebasan mengakses banyak aplikasi di Cpanel yang telah disediakan oleh Domainesia."

"Oh .... Terus ka .." Tanya Olid dan kemudian dipotong oleh Sinta.

"Stop! Oke. Gue udah bikin sampe proses checkout. Sekarang lu tinggal bayar."

Setelah melihat harga yang tertera di layar.

"Hah? Seriusan, cepet banget. Segitu harganya? Murah banget lah segitu mah." Ucap Olid dengan alias mengangkat kedua-duanya. Dan mulu membentuk huruf "O".

"Biasa aja kali." Lanjut Sinta seraya memicingkan matanya.

"Kan, udah gue bilang. Domainesia itu murah, bro."

"Ohehe. Oke deh, dah gue bayar tuh."

"Nah, nih udah jadi website perusahan kita. Terus lu tinggal tambahin datanya aja kok, seperti visi-misi perusahaan, sejarah perusahaan, ya kayak gitu dah, ntar gue ajarin gimana caranya nambahin data ke dalam website."

"Makasih banyak Sinta! ...," Teriak Olid saking gembiranya. Dan suaranya pun terdengar hingga ke ruangan sebelah.

Lanjut Olid."Lu penyelamat gue! Sip, deh. Ntar pulang kerja, gue teraktir deh di restoran paling enak di Bogor.

"Wah, seriusan? Siap!"

- PART 3 -

Pada akhirnya pun, Olid menemukan solusi terbaik. Setelah selesai deadline, ia pun mendalami ilmu teknologi. Setelah ia diperkenalkan website oleh temannya, Sinta. Sekarang, Olid sudah menjadi ahli Web Development di perusahaan tersebut. Dan lambat laut, cita-cita yang yang selama ini iya harapkan, perlahan mulai terwujud. Dengan membuat website pribadi miliknya, dan memanfaatkan jaringan sosial media di internet, seperti Facebook, Youtube, Twitter & Instagram. Ia pun berhasil menghasilkan uang melalui website yang ia kelola.

Satu tahun kemudian ...

Olid pun kini membangun bisnis usahanya sendiri. Yaitu membangun restoran. Masih kecil, sih. Dibantu dengan modal ia menabung, dari gajian pekerjaan utamanya sebagai pegawai, ditambah penghasilan dari website yang ia kelola. Hingga saat ini, ia pun sudah menjadi BOS muda restoran terbesar di Bogor, di usia 20 tahun.

Penutup Artikel


Gunakanlah teknologi sebaik mungkin, dan maksimalkan seindah mungkin. Sebab, kita sedang berada di tengah era digital. Maka daripada itu, Saya mengajak para pembaca untuk lebih mengoptimalkan teknologi yang sedang kalian gunakan saat ini. jangan hanya tahu cara pakainya saja, seperti "Olid" di tokoh cerita pendek "Aku dan Impian di Tengah Era Digital" di atas, ya.

Biografi Penulis


 Kholid Farhan. Biasa dipanggil “Kholid”, pria kelahiran Tangerang, 16 Juli 1999. Anak kedua dari tiga bersaudara, Berdarah Batak-Sunda, ia tengah menimba ilmu di jurusan Manajamen Informatika AMIK Bogor. Kini dirinya sedang berkecimbung di dunia Web Blogger & Development.

Lalu, dilanjutkan dengan berkarya di dunia kepenulisan. Kholid punya banyak kegemaran dalam kesehariannya, diantaranya: mendengarkan musik, men-design, nge-blog, touring, pegiat alam, dan melamun. Dikarenakan ia kerap melamun, dan memiliki banyak  kejadian yang ingin diutarakannya melalui sebuah karya.

Baginya, menulis itu bukan dengan paksaan, tapi dengan akal dan perasaan. Kholid pernah mengalami kisa hidup yang sangat menarik. Mulai dari kisah hidup ditinggal orang tua— hingga kisah ditinggal menikah oleh mantan, dan masih banyak lagi yang ingin ia ceritakan dalam lembaran kertas.

Hanya sekedar menulis, dan berbagi apa yang Saya sukai. Asalkan bukan membagi perasaan.


EmoticonEmoticon